Tak
pernah ia duga sebelumnya jika Lupus mengunjungi tubuhnya! Tak kalah dengan
HIV/AIDS, penyakit ini belum ada obatnya. Lupus membuat tubuhnya melemah dari
hari ke hari. Saat mengetahui dirinya mengidap lupus, yang terbayang di
benaknya adalah kematian yang terus tersenyum dan seakan melambaikan tangan di
depan.
Baginya
kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, tetapi serupa teman akrab yang
diajaknya berbincang dan berteman sehari-hari.
Jodoh yang paling pasti adalah kematian.
“Kematian adalah anugerah tertinggi yang
bisa diberikan cinta kepadamu.”
Tapi maukah kau menemaniku
menunggu mautku?
“Justru aku menanti dalam mautmu
saat itulah kau baru bisa menikah.”
Inginku, hingga akhir waktuku,
menjadi kenangan dalam hidupmu.
“Adakah kenangan yang lebih abadi
dari kematian?”
Aku sendiri yang harus mengatasnamakan
keakuanku di atas kuburanku, duniaku.
“Bila itu terjadi, kau baru tulus mencintai
tapi tak perlu sentimentil begitu, biarlah
menjadi rahasiamu sendiri.”
Aku terasing di dunia lain, sendiri
di ruang kosong, gelap, sesak hampa.
“Ada yang harus dilakukan di situ, sayang
sebagai maskawin sebelum kau kembali.”
Kalo aku tiba-tiba mati bagaimana?
Kamu menangis?
“Ih, gemes aku padamu, kemarilah, sayang
kemarilah, biar kudekap tubuhmu
saat pernikahan sudah datang.”
Hei, kau ini siapa?
“Aku adalah kematian dirimu.”
